Jumat, 03 April 2009

KALAH

Kalau aku kalah
kumau kalah dengan kesucian
tapi aku tidak tahu persis dalam kalau-ku
kunyanyikan ode ini untukmu
betapa pun tak merdu, sediakanlah kupingmu

23761 (remy silado)

Hari ini aku mengaku kalah dalam peperangan
Bukan..
Bukan musuh yang mengalahkanku
Teman?
Bukan juga.
Tak ada teman yang mengkhianatiku
Tak ada teman yang memerangiku

Aku kalah memerangi nafsuku
Nafsu amarah
dipicu rupiah yang tak seberapa besarnya
kau tahu,
rupiah bernilai tak lebih dari 400 ribu rupiah
360 ribu rupiah tepatnya
Mungkin yang lebih tepat lagi 320 ribu rupiah
Sisanya tak masuk dalam perhitungan

Bagaimana mungkin rupiah yang dalam pecahan 50 ribuan
Tak lebih dari 7 lembar,
Dalam pecahan 10 ribuan tak sanggup menggemukkan kantongku
Mampu mengalahkanku secara telak?

Kuncinya ada dalam iringan kata-kata
Uang sejumlah itu dipasukani oleh kata-kata
Dibumbui oleh kata-kata bersambal
Aduhai,
Mampu mengalahkanku!
Menjebolkan situ kesabaranku

Jika situ gintung jebol
Orang di sekitarnya yang menderita
Tapi jebolnya situ kesabaranku
Justru membuatku menderita
Aku kalah
Kau tahu.. kalahku bukan kalah biasa
Tetapi KALAH dengan huruf besar semua

Aduhai,
Kumau kalah dengan kesucian
Maka kutebus kekalahanku
dengan sunyi
Barangkali dengan sunyi
Kekalahanku menjadi suci

Rabu, 01 April 2009

Berkelebat Kenangan Itu

Gila, bener-bener gila...
tapi kupikir-pikir mosok gitu aja gila.
Iseng-iseng semalam intip-intip teman lawas
lewat dunia maya,
wah... teman-temanku ternyata melesat bagai meteor
ya kariernya, ya kedudukan sosialnya
sedangkan aku,
tetap berada di duniaku
dunia dalam tempurung

tiba-tiba aja ada rasa kangen yang menyelinap
nyelonong tanpa ba bi bu
kangen pada masa-masa lalu
masa ketika mereka belum jadi apa-apa
belum diperhitungkan siapa-siapa

sekarang tak pikir-pikir
opo gelem yo mereka yang dah jadi
orang-orang penting itu
bersepeda lagi bersama-sama cari kodok
untuk dibedah di lab biologi
cari tokek, kadal,
blusukan di sawah-sawah
ngrokoti kedondong, dan tebu
di pinggir sawah kecamatan

ah, ah, kenangan itu timbul tenggelam
di antara sekian banyak konco lawas yang tak
intip-intip lewat dunia maya
tampaknya ada satu orang yang gak berubah blass
MBAK ENNY, aku kangen kamu
kamu gak terkontaminasi dengan gaya hidup metropolitan
kamu tetep MBAK ENNY-ku sayang

mengingatmu MBAK EN, jadi ingat ruang depan Jalan Juanda
kita belajar bareng-bareng di situ
jadi ingat wangi melati
asem buah kedondong
aroma harum cake buatan kita dan mbok Yah
si Kribo Amin,

Waduh, usia telah menggilas kita
jarak dan watu tak kuasa kita taklukkan
lebih-lebih kesibukan yang selalu jadi alasan
menghambat perjumpaan kita.

Lewat dunia maya,
kenangan timbul tenggelam
ternyata kita pernah seusia anak-anak kita

Jejak di Dalam, Jejak di Luar

Oleh: bUndA sAyYanG


Di dalam:
jika celurit menggamit
harga diri tergigit
makin sengit hati yang singa
luka berbunga luka meraja
lalai antara damai dan badai

Di luar:
waktu sangatlah sempit
tak mampu menjahit
luka celurit

Di dalam dan di luar:
Luka berbunga luka
mandul tak berbuah
tak mampu lagi mengubah badai menjadi damai

Rupa-rupanya puisi ini bisa menjadi penyebab keracunan
di lingkungan saya
anehnya lagi yang keracunan itu si mungil menthil
haha, sekarang efek racunnya dah ilang kan?
berpelukan...