Sabtu, 11 Oktober 2008

Tembang Kemangiran


Pada minggu ketiga bulan ramadhan lalu, saat aku beres-beres rumah, kutemukan naskah dramatisasi puisi yang ditulis oleh Bapak Mujianto, JPBSI-IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang). Dicantumkan pembuatan naskah tersebut bulan Oktober 1987. Ingin kunikmati keindahan Tembang Kemangiran bersama teman-teman yang dengan sengaja berkunjung atau pun kesasar ke blog-ku

Tembang Kemangiran

Tengah malam, taman sari kadipaten Mangir

Juru taman tua bersimpuh bersenandung kidung

tulak bilahi, sayup sampai menyayat sepi

Tiba-tiba pintu keputren berderit perlahan

”Paman, Paman Juru Taman

Belum lagi kau tidurkan diri

Kau baringkan kidungmu

Berselimut dingin berkubang malam

... malam telah beku.”

Bunga putih taburkan keharuman

Nyala lampu pijar sesilir bawang

Belalang sumbang menyusup liang

Di gendang telinga mengiang-ngiang

”Paman, Paman Juru Taman

Kosongkan malam ini, biar sepi kemari

Berhimpit tubuh melekatkan hati

Kusuka paman membuka tirai

Menahan letih jarinya kaku tubuhnya

Nafas panjang desah putus asa

Dituduhnya perut buncit di depannya

”Kau khianati dengan peluh dan liurmu

Keringat dan nafasmu yang memburu

Pasrah dalam gadaian iman dan kejantanan

Hingga tumbuh janin jelmaan musuh bebuyutan”

Kunang-kunang menyela sepi

Meraba tepi malam berselubung duka

Menyusup gelap menghilang bekas

Tengah malam semakin bisu

Bungkam beku dingin membatu

”Paman, Paman Juru Taman

Panggillah aku: Gusti Putri Roro Pembayun

Seperti kau panggil yang dulu

Ketika ulah sandi kita mulai.”


”Sudi, sudilah kupanggil itu

Karena Sang Panembahan Senopati

Turunkan wewarah suci yudha bakti

Dan kubawa senjata permati: Parasmu jelita tanpa noda”

”Barang jantur aman jerat muslihat

Pada musuh yang lompat sempurna tak bercacat

Jantannya Ki Ageng Mangir merobek dan menjeratmu

Bagai jarum menyusup air tertikam benang sutra

Buntingmu semakin besar, orok pun lahir pada darah ayahnya”


Malam jadi goyah

Batu dan kekayuan terusik lelapnya

”paluwatang” berdentang di hutan liar bergaung panjang

Arak-arak lelembut turun bukit mengusung pendosa

Sorak sorai di kejauhan tinggal derap kaki menghentak bumi

Suara tak berasal menyebut nama-nama orang mati

Nama-nama anak cucunya yag akan dihampirinya


Langit berkilat-kilat bintang-bintang beralihan

Sesaat kemudian gelap merapat wajah bumi

Bau asap dupa kesturi menusuk nusuk

”Paman, Paman Juru Taman, Sang Hulubalang

Pinta dan harapku tertumpah pada sesal dan dosa

Aku bukan bidadari kayangan atau peri perayangan

Aku Pembayun, wanita berparas ayu berhati betina

Luluh pada setiap jantan yang menawan.”

”Aku tidak tahu

Apakah aku menyerahkan diri atau melawan?

Berperang atau berdamai? Tugas mbarang dan memikat.

Kalah atau menang serupa!”

Kunang-kunang menyela sepi

Meraba tepi malam berselubung duka

Menyusup gelap menghilang bekas

Tengah malam semakin bisu

Bungkam beku dingin membatu

”Pertempuran belum juga selesai

Biar berbuah janin di perutmu tujuh bulan

Kau harus merayunya lagi runtuhkan keyakinannya

Biar Ki Ageng Mangir bersimpuh di terompah mertua.”

“Tak ada yang mampu mencegahnya

Gugatan paling dahsyat atas kewibawaan Mentaram

Jika tubuh bugil dan jiwamu takkan kau gadaikan

Dan kau dapatkan tebusan penyesalan yang panjang.”

Kunang-kunang menyela sepi

Meraba tepi malam berselubung duka

Menyusup gelap menghilang bekas

Tengah malam semakin bisu

Bungkam beku dingin membatu

”Paman, Paman Juru Taman, Sang Hulubalang

Tidakkah sandiwara telah tamatkan ceritanya

Berkesudahan yang berbeda dengan angan semula

Licik. Hina, dengki, dan dusta bertahta.”

”Adakah korban akan dijatuhkan lagi

Untuk merabuk keyakinan dan kewibawaan

Dan kuasa merajalela dalam gelak tawa

Sementara air mata kering meneteskan darah.”

Kunang-kunang menyela sepi

Meraba tepi malam berselubung duka

Menyusup gelap menghilang bekas

Tengah malam semakin bisu

Bungkam beku dingin membatu

”Bukan apa-apa, bukan korban, tapi persembahan

Pertanda yang harus dicorengkan ke muka sendiri

Menggurat sejarah kebiadaban dan kenistaan yang dalam.

Bayi lahir dalam darah segar ayahnya sendiri

Tangis pertamanya akan meneriakkan kesaksian.”

Kunang-kunang menyela sepi

Meraba tepi malam berselubung duka

Menyusup gelap menghilang bekas

Tengah malam semakin bisu

Bungkam beku dingin membatu

”Aku, kusaksikan muncratnya darah kepala suamiku

Dan tumpahnya darah dari rahimku, berpacu

Tangis yatim dan gelak tawa kemenangan

Yang tak tergoreskan dengan kata.”

Tengah malam telah rubuh

Bergelimang seribu bayang-bayang

Mengusir kunang-kunang

Rata dan sepi.

Tidak ada komentar: